April 16, 2026
Membongkar Penyebab Lambatnya Penurunan Stunting pada Indonesia

Stunting adalah ujung dari persoalan rendahnya literasi gizi masyarakat. Literasi gizi atau pemahaman kemudian kesadaran gizi warga mempengaruhi pola asuh juga pola konsumsi keluarga.

Keluarga tanpa pemahaman gizi yang mana baik cenderung bukan memperhatikan asupan gizi anak, sehingga anak terbiasa mengkonsumsi makanan yang digunakan merek suka, seperti makanan juga minuman dengan isi gula garam lemak yang mana tinggi.

Pembahasan ini mengemuka pada urun rembuk yang digunakan dilaksanakan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dengan PP Aisyiyah, PP Muslimat NU kemudian para mitra di area Jakarta.

Dalam kesempatan itu, guru besar gizi Universitas Muhammadyah hasul penelitiannya mengenai kebiasaan konsumsi kental manis oleh balita.

Berdasarkan penelitian yang dimaksud dilakukan, sebanyak 11,4% balita di tempat Banten, 8,4% pada DKI DKI Jakarta serta 5,3% di dalam DI Yogyakarta mengonsumsi kental manis.

Tidak hanya saja itu, 78,3% responden di area Banten, 88,1% di tempat DKI serta 95,2% dalam DI Yogyakarta memberikan kental manis terhadap balitanya lebih banyak dari 1 sachet perhari.

Adapun faktor utama pemberian kental manis pada anak ini disebabkan oleh persepsi publik di tempat tiga wilayah ini yang masih menganggap kental manis adalah susu.

“Mengapa studi ini menjadi penting, pola makan yang digunakan terbentuk sejak balita akan terbawa terus hingga dewasa, sehingga kebiasaan memberikan kental manis untuk anak serta balita ini harus dicegah sedini kemungkinan besar supaya bukan berlanjut. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan balita secara alamiah sangat suka makanan manis, terlebih lagi ketika ada paparan gula tambahan pada pada makanan,” papar guru besar Universitas Muhammadyah DKI Jakarta ini ditulis Mulai Pekan (18/12/2023).

Ketua bidang advokasi YAICI, Yuli Supriati menyoroti kampanye penanganan stunting yang tersebut selama ini pada gaungkan tidaklah berdasar pada persoalan yang tersebut dihadapi oleh masyarakat.

“Selama ini narasi mengatasi stunting adalah dengan ASI ekslusif. Ibu itu bukannya tidak ada mau memberikan ASI ekslusif untuk anaknya, tapi lantaran tiada mampu, oleh sebab itu bekerja, sebab kondisi kondisi tubuh serta ibu meninggal. Anak-anak yang mana tidak ada mendapat ASI ekslusif ini larinya ke kental manis,” jelas Yuli membeberkan temuan-temuannya ketika berdialog dengan masyarakat.

Roesmarni Rusli, dari Repdem di kesempatan itu mempertanyakan mekanisme pengawasan peredaran komoditas dengan komposisi gula yang digunakan tinggi di area masyarakat.

“Produk kental manis ini berdasarkan PerBPOM NO 31 th 2018, telah di tempat atur bahwa pada labelnya tidak ada boleh menyertakan kata susu, seharusnya dalam tulis krimer kental manis. Sekarang, kalau kita lihat, pad akemasan kental manis kembali lagi mencantumkan susu kental manis, ini apakah BPOM kembali merubah peraturannya atau memang sebenarnya bukan ada pengawasan terhadap ini?” tanya Roesmarni.

Penata kependudukan dan juga KB ahli madya Dr Maria Gayatri SSi MAPS yang turut hadir di kesempatan itu mengakui, persoalan kental manis seharusnya mendapat perhatian lebih.

“Susu kental manis ini jarang sekali dibahas di tempat BKKBN, nanti akan disampaikan ke pimpinan,” ujar Maria.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan Badan Kependudukan dan juga Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) ketika ini sedang melakukan audit persoalan hukum stunting. Hal ini untuk mengetahui faktor-faktor resiko faktor stunting.

Dokter anak RS Mayapada dr. Kurniawan Satria Denta, M.Sc, Sp.A yang tersebut turut hadir di kesempatan itu menyatakan salah satu kunci menghindari stunting adalah kualitas protein yang tersebut diberikan untuk anak.

“Protein yang dimaksud paling baik adalah protein hewani, telur, ikan susu, ini jenis protein hewani yang tersebut tersedia di tempat sekililing kita,” jelas dr. Denta.

Selain itu, ia juga menyoroti masifnya informasi yang dimaksud beredar di dalam rakyat juga memicu pola makan yang mana salah pada anak.

“Di tiktok saya lihat, ada ibu-ibu memberikan kental manis untuk anak yang digunakan belum 1 bulan. Saat ibu-ibu lain mengawasi lalu merekan tidaklah dibekali edukasi gizi yang digunakan cukup, bisa jadi cuma ia meniru perilaku ini. Hal ini menurut saya juga harus di dalam atasi,” tegasnya.

YAICI dengan para mitra berjanji untuk terus meningkatkan upaya edukasi, menguatkan pemahaman tentang gizi yang digunakan baik, lalu bekerja sebanding dengan pemerintah tempat dan juga pihak terkait guna mengatasi akar permasalahan yang mana menyebabkan gizi buruk dan juga stunting.

Hasil dari urun rembuk sama-sama para mitra yang disebutkan diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintaha lalu seluruh stakeholder terkait untuk bersama-sama bergerak mengatasi stunting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *