April 16, 2026
Bukan Ancaman Bagi Tenaga Kerja, Pemakaian Teknologi Kecerdasan Buatan di dalam tempat Rumah Sakit Justru Banyak Diinginkan Nakes

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kerap dianggap ancaman bagi umat manusia. Sebab, kecanggihan teknologi dikhawatirkan akan masih menggeser banyak pekerjaan yang mana semula dikerjakan oleh manusia jadi terganti oleh mesin.

Tetapi rupanya, ketersediaan Kecerdasan Buatan justru sangat dinantikan oleh para tenaga kemampuan fisik (nakes) di dalam rumah sakit. Hal yang dimaksud bedasarkan temuan dari studi Future Health Index (FHI) Indonesia 2023 yang digunakan diadakan Royal Philips di area 14 negara. Di Indonesia sendiri ada sebanyak 200 nakes yang digunakan menjadi koresponden.

Direktur Utama Philips Indonesia Astri Ramayanti mengungkapkan bahwa pemimpin kondisi tubuh di dalam Indonesia sebenarnya semakin beralih terhadap kecerdasan buatan untuk meningkatkan pemberian perawatan serta efisiensi operasional. 

Ilustrasi Artificial Intelligence (Freepik/phonlamaistudio)
Ilustrasi Artificial Intelligence (Freepik/phonlamaistudio)

Saat ini, hampir sepertiga atau sebanyak 32 persen rumah sakit dalam Indonesia telah berinvestasi pada teknologi kecerdasan buatan. Sementara 76 persen lainnya berencana melakukan hal sejenis pada tiga tahun mendatang. 

“Laporan ini menyoroti minat sama-sama pada kecerdasan buatan di tempat antara kedua kelompok, baik pemimpin maupun profesional muda. Kedua kelompok memprioritaskan pengaplikasian kecerdasan buatan untuk memprediksi hasil pasien, membantu langkah klinis, serta mengoptimalkan efisiensi operasional,” kata Astri pada koferensi pers dalam Jakarta, Rabu (13/12/2023).

Dari survei yang disebutkan juga ditemukan kalau  para pemimpin kebugaran beranggapan kalau pemanfaatan Kecerdasan Buatan justru berguna untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja yang tersebut masih terjadi di tempat Indonesia, teristimewa di tempat tempat pedesaan. Sebanyak 77 persen responden berpartisipasi mengungkapkan telah dilakukan menggunakan atau berencana manfaatkan kondisi tubuh digital.
 
Para nakes usia muda, di area bawa 40 tahun, juga punya ketertarikan tambahan tinggi untuk bekerja pada rumah sakit yang mana telah terjadi melakukan adaptasi teknologi lebih tinggi canggih. Satu pertiga dari nakes muda itu memberikan prioritas akses terhadap pemanfaatan Kecerdasan Buatan di perawatan kondisi tubuh kemudian pengiriman perawatan terhubung pada waktu memilih tempat kerja. 

Meski begitu, merekan juga masih merasa perlu adanya pelatihan lebih banyak baik tentang teknologi baru kemudian akses ke alat diagnostik canggih sebagai faktor kunci untuk meningkatkan perawatan pasien. 

Kemudahan perawatan dengan bantuan teknologi itu salah satunya dijalankan oleh rumah sakit pemerintah, RS Jantung dan juga Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta. Direktur Umum serta Sumber Daya Individu RS Harapan Kita, dr. Basuni Radi, Sp.JP., mengungkapkan bahwa pemanfaatan teknologi di dalam rumah sakit tidaklah hanya saja mempermudah lalu mempercepat kerja nakes, tapi juga membantu pasien pada akses layanan.

“Kalau pada RS Jantung Harapan Kita, kita lihat ada beberapa hal mampu digunakan. Utamanya kalau dari kami bagaimana memberikan kenyaman, kemudahan untuk pasien. Contoh yang bisa saja diterapkan, mulai dari pasien daftar. Dulu harus datang langsung, bawa KTP, bawa orang sakitnya. Sekarang daftar dapat dari mana cuma secara online,” tuturnya. 

Contoh lain lagi, misalnya terkait penyimpanan rekam medis yang dimaksud dapat dilaksanakan secara digital sehingga bukan perlu lagi disimpan pada bentuk sejumlah dokumen kertas. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *