Jakarta – Mahasiswa postdoctoral Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Shazma Anwar meneliti kontaminasi mikroplastik pada flora pangan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pemanfaatan kemasan berbahan dasar plastik sekali pakai di tempat Indonesia.
Hal ini, kata Shazma, telah lama menjadi kegelisahan mengenai persoalan mikroplastik. Padahal, pembatasan pemakaian plastik sekali pakai telah dilakukan diterapkan dengan ketat di area negara maju, termasuk melalui penerapan cukai plastik.
Pada dasarnya, kata Shazma, mikroplastik adalah partikel kecil dengan diameter kurang dari 5 mm. Mikroplastik dapat mencemari lingkungan, teristimewa pada tanaman. “Kentang menjadi sampel penelitian saya, oleh sebab itu menjadi salah satu makanan pokok pada beberapa belahan dunia. Selain itu, kentang yang digunakan termasuk di kategori umbi-umbian dapat menjadi sasaran empuk dari mikroplastik,” ujar pelajar selama Pakistan itu, dikutipkan dari laman resmi UMM pada Senin, 18 Desember 2023.
Penelitian Shazma berlangsung selama lima bulan di dalam berbagai tempat budidaya kentang di dalam Malang Raya. Mulai dari Desa Pujon Kidul, Desa Sumber Brantas, Desa Ngadas, hingga Desa Ngantang. Ia juga ditemani alumnus doktoral UMM Roy Hendroko Setyobudi.
“Hasilnya menunjukkan bahwa sampel kentang pada semua wilayah yang disebutkan terkontaminasi mikroplastik dengan kelimpahan 0,02 sampai dengan 0, 24 partikel g–1. Bahkan, item Usaha Mikro Kecil lalu Menengah atau UMKM olahan kentang yang mana dipilih secara acak pun mengandung mikroplastik,” kata Shazma.
Berdasarkan hasil penelitiannya, mikroplastik yang paling mendominasi adalah filamen lalu serat. Filamen bersumber dari kantong lalu kemasan plastik, polybag, juga plastik UV. Sementara itu, serat mikroplastik berasal dari air cucian pakaian, deterjen, sabun, komponen kecantikan, filter rokok, saset kopi lalu teh, pamper. Selain itu, mulsa plastik atau penutup lahan vegetasi yang dimaksud kerap digunakan pada aktivitas pertanian juga menyumbang cemaran mikroplastik.
Shazma menjelaskan, plastik berbasis minyak bumi tiada dapat musnah. Seiring dengan waktu, ukurannya dapat mengecil juga berdampak pada peningkatan pencemaran. Apabila tanah sudah ada tercemar, maka dapat berakibat pada penyumbatan akar tumbuhan, mematikan organisme tanah, menurunkan kesuburan tanah, lalu mengganggu peningkatan tanaman.
“Dampak lebih tinggi buruk, dapat masuk ke buah yang dikonsumsi manusia, atau batang kemudian daun yang tersebut dimakan hewan, sehingga, berpotensi membahayakan kesehatan.”
Uji coba yang tersebut dilaksanakan pada tikus juga menunjukkan hasil yang digunakan dapat menjadi bukti. Tikus yang diberikan kentang terkontaminasi mikroplastik terhenti pada waktu tiga minggu. Hal ini pun mengindikasikan risiko kritis yang tersebut dapat ditimbulkan oleh mikroplastik terhadap lingkungan dan juga kesehatan.
Selain pada kentang, Shazma juga menemukan pencemaran mikroplastik di flora padi lalu jagung di dalam wilayah Malang Raya. Tak dapat dipungkiri bahwa penyelenggaraan plastik di dalam era baru memang benar tidak dapat dihindari. Akan tetapi, penggunaannya harus dilaksanakan dengan bijak. Misalnya dengan menerapkan reduce, reuse, recycle, dan juga replace (4R) atau mengurangi, menggunakan kembali, mendaur ulang, serta mengganti.
Ia berpendapat, UMM harus bergerak cepat pada penelitian serta penerapan bioplastik yang dapat terurai secara alami. “Mulai dari pemanfaatan metode biologi untuk pemulihan cemaran mikroplastik, pembuatan pupuk organik bebas mikroplastik, pemanfaatan tumbuhan hidup untuk membersihkan pencemaran lingkungan, juga pemanfaatan zat padat untuk mengangkat mikroplastik agar tak masuk ke perakaran tanaman,” kata dia.